Aceh sebagaimana daerah lainnya di Indonesia, memiliki sangat beragam budaya dan adat istiadat. Tradisi yang harus dilestarikan oleh setiap generasi.
Dalam kesehariannya, masyarakat Aceh memiliki nama bulan tersendiri yang merujuk kepada bulan Hijriyah. Masyarakat Aceh tidak menggunakan rujukan bulan Masehi karena mayoritas penduduknya yang beragama islam sejak dari zaman para sultan dahulu.
Rajab merupakan bulan ke tujuh dari Hijriyah, yang sejajar dengan Buleun Apam atau Khanduri Apam dalam "Almanak Aceh".
'Buleun' artinya bulan, sedangkan 'apam' adalah sejenis kue yang terbuat dari tepung beras yang berbentuk seperti serabi. Sering orang juga menyebutnya buleun khanduri apam. Yang dimaksud dengan 'khanduri' adalah makan-makan bersama atau pesta rakyat.
Maka tidak heran, kedatangan buleun apam ini sangat ditunggu-tunggu oleh setiap elemen masyarakat Aceh, terkhusus di Kabupaten Pidie.
Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Pidie untuk mengadakan khanduri apam pada bulan ini. Di kampungku Desa Ulee Tutue, khanduri teut apam diadakan secara ramai-ramai. Dan masyarakat pun saling datang untuk membantu ketika diadakan khanduri. Kalau hari ini di rumah si A, maka yang lain datang membantu untuk teut (memasak) apam. Begitupun kalau besok diadakan di rumah si B, maka si A dan yang lainnya pun datang untuk membantu.
Apam yang telah masak kemudian dibagikan rata ke setiap rumah penduduk gampong (kampung). Juga akan diantar ke meunasah (surau) untuk disedekahkan ke pengurus meunasah.
Adonan yang diperlukan dalam membuat apam tidak lah banyak. Hanya memerlukan tepung beras putih yang ditumbuk khusus di "jeungki" (bukan tepung yang dijual di pasaran), inti santan, garam dan air hangat. Setelah semuanya dicampur menjadi adonan yang agak encer, kemudian dibakar di neuleuk/cuprok tanoh (belanga tanah kecil). Membakarnya dengan menggunakan on ubeu(daun kelapa kering).
Ketika memasaknya, cuprok harus betul-betul panas terlebih dahulu, lalu tabur sedikit garam ke dalamnya dan sapu dengan "tapeh" (sabuk kelapa) sambil ditekan dan dibuang garamnya. Baru masukkan secentong adonan, tunggu agak berpori lalu tutup sampai matang. Prosesnya memang betul-betul tradisional.
Hasilnya...Mmmhh mencium aromanya sungguh tak tahan. "Bangau that bei jih dan mangat hana saban sa" (Sangat wangi dan lezat yang tak terkira). Bentuknya yang semok, berpori, lembut serta menebarkan harum yang tak tertahankan itu sungguh menggoda alat pecicap untuk langsung nencicipinya.
Apam biasanya disajikan dengan kuah santan manis yang dicampur dengan pisang raja, ketela, ubi kayu dan nangka masak. Apam yang baru masak juga enak dimakan dengan parutan kelapa yang dicampur sedikit gula.
Bahkan "seungeu apam" (setelah masak langsung dimakan begitu saja) juga menjadi kesukaan sebagian besar masyarakat termasuk saya tentunya. Karena harum bangau itulah yang nggak nahaaaan. Enaaaak dan bikin nagih.
Dalam kesehariannya, masyarakat Aceh memiliki nama bulan tersendiri yang merujuk kepada bulan Hijriyah. Masyarakat Aceh tidak menggunakan rujukan bulan Masehi karena mayoritas penduduknya yang beragama islam sejak dari zaman para sultan dahulu.
Rajab merupakan bulan ke tujuh dari Hijriyah, yang sejajar dengan Buleun Apam atau Khanduri Apam dalam "Almanak Aceh".
'Buleun' artinya bulan, sedangkan 'apam' adalah sejenis kue yang terbuat dari tepung beras yang berbentuk seperti serabi. Sering orang juga menyebutnya buleun khanduri apam. Yang dimaksud dengan 'khanduri' adalah makan-makan bersama atau pesta rakyat.
Maka tidak heran, kedatangan buleun apam ini sangat ditunggu-tunggu oleh setiap elemen masyarakat Aceh, terkhusus di Kabupaten Pidie.
Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Pidie untuk mengadakan khanduri apam pada bulan ini. Di kampungku Desa Ulee Tutue, khanduri teut apam diadakan secara ramai-ramai. Dan masyarakat pun saling datang untuk membantu ketika diadakan khanduri. Kalau hari ini di rumah si A, maka yang lain datang membantu untuk teut (memasak) apam. Begitupun kalau besok diadakan di rumah si B, maka si A dan yang lainnya pun datang untuk membantu.
Apam yang telah masak kemudian dibagikan rata ke setiap rumah penduduk gampong (kampung). Juga akan diantar ke meunasah (surau) untuk disedekahkan ke pengurus meunasah.
Adonan yang diperlukan dalam membuat apam tidak lah banyak. Hanya memerlukan tepung beras putih yang ditumbuk khusus di "jeungki" (bukan tepung yang dijual di pasaran), inti santan, garam dan air hangat. Setelah semuanya dicampur menjadi adonan yang agak encer, kemudian dibakar di neuleuk/cuprok tanoh (belanga tanah kecil). Membakarnya dengan menggunakan on ubeu(daun kelapa kering).
Ketika memasaknya, cuprok harus betul-betul panas terlebih dahulu, lalu tabur sedikit garam ke dalamnya dan sapu dengan "tapeh" (sabuk kelapa) sambil ditekan dan dibuang garamnya. Baru masukkan secentong adonan, tunggu agak berpori lalu tutup sampai matang. Prosesnya memang betul-betul tradisional.
Hasilnya...Mmmhh mencium aromanya sungguh tak tahan. "Bangau that bei jih dan mangat hana saban sa" (Sangat wangi dan lezat yang tak terkira). Bentuknya yang semok, berpori, lembut serta menebarkan harum yang tak tertahankan itu sungguh menggoda alat pecicap untuk langsung nencicipinya.
Apam biasanya disajikan dengan kuah santan manis yang dicampur dengan pisang raja, ketela, ubi kayu dan nangka masak. Apam yang baru masak juga enak dimakan dengan parutan kelapa yang dicampur sedikit gula.
Bahkan "seungeu apam" (setelah masak langsung dimakan begitu saja) juga menjadi kesukaan sebagian besar masyarakat termasuk saya tentunya. Karena harum bangau itulah yang nggak nahaaaan. Enaaaak dan bikin nagih.







No comments:
Post a Comment